Senin, 08 Juni 2015

On 19.09 by Zuhdi Amin   No comments


JODOH (Hanya Allah yang Tahu)
Penulis: Tolibil Khusna Twitter: @07Abil McWriter / Fb: Abil McWriter
Jelas sekali terlihat kontras antara anak priyayi dan abangan di sebuah desa, seluruh anak priyayi dimasukkan dalam pesantren sedangkan anak abangan hanya di ladang sawah, paling tinggi hanya tamatan Sekolah Dasar (SD). Anehnya, pemuka desa justru mendukung warganya untuk menjadi buruh di kota besar, seperti Jakarta, Semarang, atau ke Luar Jawa bahkan ada sebagian orang tua begitu bahagia dan bangga ketika salah satu anaknya menjadi TKI di Luar Negeri.
Alif berhenti sejenak di gerbang desa. Ia berharap tak ada orang yang melihatnya, tetapi sekali ini ia tidak beruntung. Semua orang melihat Alif yang habis pulang dari pesantren dengan mengenakan sarung dan peci serta tangan kanannya membawa kitab yang telah selesai di kajinya di pesantren. Nampak, dalam pandangan orang-orang desa terlihat aneh melihatnya. Alif sungguh berharap bisa menyingkir dari sana tanpa diketahui siapapun.
“ Hai Lif, bagaimana kabarmu ? Wah sekarang sudah jadi Ustadz, kapan kau akan menikah?” tanya Rahman, yang berdiri disampingnya.
“ Belum tahu Man, Abah menyuruh kuliah lagi,” 
“ Ingat umur Lif, nanti kau jadi bujang lapuk!”
Rahman mengingatkan sahabatnya seolah-olah dia tak tahu adat dari anak priyayi. Alif tidak membuka mulutnya lagi saat Rahman meninggalkannya. Bisik-bisik itu terdengar semakin jelas. Bahkan, anak ini bisa menangkap isi pembicaraan mereka. Memang di desa usia dua puluh lima tahun tergolong sudah telat menikah.
“ Pertama, menurut pendapatku Alif itu orangnya panjang angan-angan, anak kyai desa aja kepinginnya kuliah ke luar negeri.”
“ Kata pak Sanusi yang jadi abdi ndalemnya, Abahnya itu orangnya keras, kalau ingin apa ya harus dituruti,”
“Dan kau percaya itu? Semua juga tahu, kalau laki-laki seperti dia pasti menginginkan pendidikan yang layak. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku seperti dia.”
“Aku setuju, terlalu dikekang juga akan menyakiti hati saja.”
“Hati-hati teman, penyakit hati tercium dari sini”
“Menurutku, Alif laki-laki yang optimis, berjiwa teguh, dan mempunyai mimpi yang besar karena nantinya ia yang menggantikan posisi ayahnya kelak”
Matahari mulai tenggelam meninggalkan ufuknya, mega merah di bawah kaki bukit gunung Sindoro begitu cerah terpancar mengiringi terbenamnya matahari yang lelah membakar diri untuk menerangi alam raya. Burung-burung berterbangan kembali pada sarangnya, binatang-binatang kecil melengking suaranya, merasuk ke gendang telinga. Gema adzan maghrib menjulang ke angkasa lewat mercusuar Masjid Baiturrohman, lantunan iqamat[1] membawa alam mulai petang.
Panggilan mulia itu terasa menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah kaki menuju masjid Baiturrohman yang hanya beberapa meter saja dari rumahku.
Sudah menjadi rutinitas kami dirumah setelah sholat maghrib biasanya mengaji sorogan[2] dengan Abah. Mengaji kitab Fathul Qorib, Akhlakul Banin, Jurumiyah dan Al-Qur’an. Aku habiskan waktu malam untuk memperdalami ilmu agama. Walau hanya 30 menit, tetapi ghirah[3]  kami sangat kuat. Tetapi ada yang beda dengan malam ini, sejak dari dulu tradisi di desaku apabila ada anak yang khatam mengaji dari pesantren pasti ada syukuran kecil-kecilan, melantunkan sholawat al barzanji dengan diiringi rebana klasik.
Orang-orang desa mulai berdatangan memadati rumah. Suara alunan musik rebana dengan suara parau melantunkan sholawat barzanji membawa suasana riuh, merdu sekali marasuk ditelinga, orang-orang sangat antusias sekali, sesekali mataku melirik ke sudut ruang terlihat keringat bercucuran deras dengan mulutnya membacakan sholawat, walaupun malam ini cuacanya sangat dingin. Acara selesai dengan makan ingkung[4], nasi liwet dan kerupuk rambak, orang-orang begitu menikmatinya, ada canda tawa yang terlontarkan dari kerumunan malam ini.
“Alif, besok lusa kau persiapkan semuanya untuk kuliah. Abah sudah daftarkan kamu di Universitas Ulumul Qur’an, pak Sanusi sudah mengurus semuanya sebelum kamu pulang.”
“Iya Bah” jawab Alif dengan membetulkan posisi duduknya.
Udara dingin pegunungan menusuk kulit, seluruh kujur tubuh terasa menggigil, bahkan sebagian bapak-bapak yang hadir ada yang memakai handuk sekedar menutup lehernya untuk melawan hawa dingin malam ini. Satu persatu tamu undangan pergi begitu saja hanya meninggalkan tawa riuh suka ria pada acara tasyakuran. Aku  lihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, aku rebahkan punggungku di tembok ruang tamu, aku selonjorkan kaki di atas karpet hijau untuk mengusir lelah perjalanan yang telah ku lalui hari ini dari pesantren, sambil ku dengarkan suara merdu Habib Syekh bin Abdul Qodir As-Segaf. Aduhai nikmatnya, Mataku liyer-liyer menikmati indahnya sholawat.
v   
Pagi ini langit begitu cerah, matahari tersenyum lebar-lebar, semilir angin membelai halus rambutku. Burung kenari tak jemu melantunkan suara khasnya, mengiringi hari yang istimewa bagiku, hari ini aku akan ke Universitas Ulumul Qur’an sekaligus mencari pesantren sebagai tempat tinggalku nanti, aku dengar dari pak Sanusi katanya Abah punya teman disekitar kampus, kebetulan juga sebagai pengasuh pesantren. Kusisir tempat depan rumahku, pohon kelapa tinggi menjulang, pohon rambutan, tanaman singkong, palawija, lestari alamku dengan hijau daun dan ladang sawah. Terdengar dari jauh suara kerbau yang lapar, daun-daun hijau yang melambai-lambai. Pak Tani berlalu lalang, sambil menyunggingkan bibirnya dengan sapaan ramah, dipikulnya cangkul untuk menggarap ladang yang akan ditanami padi. 
Kulihat jam tangan yang menempel ditangan kananku, suaranya begitu gelisah ditelinga, menunjukkan pukul tujuh pagi. Seperti biasa tak pernah kulewatkan untuk shalat dhuha walau hanya dua rakaat, karena itu memang sudah jadi kebiasaanku yang selalu Abah ajarkan sebelum aku di pesantren.
“Ayo Lif, kita berangkat ke pesantren,”
“Iya Bah, ini lagi berkemas-kemas”
Walau ada Pak Sanusi sebagai abdi ndalem, tapi aku tidak boleh seenaknya sendiri, apapun semua kebutuhan harus kupersiapkan sendiri. Abah akan sangat marah kalau aku menyuruh Pak Sanusi dan mengetahui apa yang aku lakukan jika harus bergantung pada orang lain. Kalau bisa melakukan sendiri kenapa harus menyuruh orang lain untuk mengerjakannya. Dilajunya sepeda motor Vespa 1960, motor kesayangan yang sampai sekarang masih dipakai kemana-mana. Sekitar satu jam dari tempatku sampai ke pesantren.  Aku dikenalkan oleh teman Abahku yang tak lain pengasuh pondok pesantren Al Hidayah. Beliau bernama KH. Hizbullah. Beliau sangat mengohormati tamu, sederhana, dan meneduhkan kalau pandang, halus tutur katanya, orang-orang disekitar sangat menghormati beliau karena kedalaman ilmu dan santun pekertinya.
Aku ditunjukkan kamar  yang akan Aku tempati, ya ukurannya sekitar 4x6 meter, cukuplah kalau hanya buat bertiga. Aku pandang dari jauh Abah begitu akrab dengan pak Kyai, kulihat ada tawa lepas, seperti anak ayam bertemu induknya. Aku dipanggil untuk duduk bersama dengan pak Kyai, ada sedikit rasa canggung, malu, gerogi, sampai-sampai tak sadar keringat di jidatku basah.
“ Alif, yang betah ya, kalau ada apa-apa bilang saja,” kata pak Kyai ramah.
“ Aku hanya menganggukkan kepala, sebagai rasa setuju.”
“Tidak usah tirakat-tirakatan, belajar yang rajin, dimuthala’ahi[5] apa yang sudah disampaikan oleh ustadz-ustadz disini”
Aku hanya menganggukkan kepala.
 “Alif, ambil jurusan apa?”
“Fakultas Ilmu Dakwah, Yai”
Kutengok Abah sudah berkali-kali melihat jam tangannya, maklum dirumah juga ada jadwal pengajian bersama ibu-ibu, tak lama Abah berpamitan untuk pulang ke rumah.
Aku diantar Ustadz Zainal, Lurah di pondok pesantren Al-Hidayah, orangnya tinggi penuh wibawa. Aku di masukkan ke kamar Ali bin Abi Thalib, di samping kanan yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar ibn Khattab, di samping kiri Usman bin Affan. Di pesantren ini nama kamarnya unik, selain untuk mengingat nama para sahabat nabi juga sebagai teladan penghuninya.
Udara pegunungan terasa sekali di kulitku, walau jam menunjukkan pukul sembilan pagi tetapi aku merasakan seperti waktu subuh saja. Kupandang seluruh sudut-sudut pesantren, dipojok asrama pesatren dibawah tiang peyangga bangunan kamar terlihat laki-laki kira-kira berumuran dua puluh tujuh tahun begitu asyik menikmati lantunan ayat suci al-Qur’an, disamping kanannya laki-laki berkulit hitam berambut ikal membaca buku pengetahuan, nampak dari jauh Tafsir Al Misbah ditangannya begitu serius ia pelajari.
 Assalamualaikum”
”Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.”
“Ini  ada santri baru dari Kendal. Nanti di bimbing, apa saja yang menjadi adat dan tradisi di pesantren. Saya tinggal dulu, harus ke ndalem lagi”.
“Iya kang,”
Memang di pesantren kalau memanggil yang lebih tua menggunakan sapaan “kang”, meski umurnya lebih muda namun lebih dahulu tinggal di pesantren tetap menggunakan sapaan kang, karena sudah menjadi adat atau tradisi dari pesantren. Jadi di pesantren semua sama, tidak ada yang dibeda-bedakan sekalipun anak pejabat, kyai, atau kepala desa kalau ada di pesantren semua sama. Ketika salah harus diberikan hukuman secara disiplin. Dalam kamar ini aku tinggal bertiga; aku, syarif dan wildan. Aku yang baru mau masuk kuliah, karena jadwal kuliah di bulan September. Dan memang bulan September lagi musim dingin-dinginnya di daerah pegunungan. Syarif baru tingkat lima. Sedangkan wildan menunggu pengumuman untuk menulis skripsi.
Kubuka jendela kamar perlahan.
Subhanallah!
Nampak pemandangan hijau pegunungan disertai kabut yang tebal, dibawah kaki gunung Sumbing, burung-burung berlarian di pemetakan sawah, begitu rapi tersusun terasering,  para petani berjongkok menanam padi, bunga matahari berjejer sangat rapi menambah elok ciptaan Allah. Mataku menangkap ada paras yang bersinar dibalik kerudung putih, dijalan kecil ladang sawah, kutatap dengan hati-hati, kupandangi dengan teliti bagai mencari jarum di tumpukkan jerami.
Mataku tak bisa menoleh dibuat penasaran olehnya, siapakah gerangan gadis berjilbab putih itu, gumamku dalam hati. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, menyunggingkan bibir mungilnya, jantungku berdekup kencang bagai tertembak meriam Belanda. Parasnya memancarkan cahaya air wudlu, matanya indah seperti bola  pimpong, kulitnya putih bersih. Aku benar-benar tercengang dibuatnya. Tiba-tiba Wildan membuyarkan lamunanku.
“Sedang apa kau Lif, apa yang kau lihat diluar sana.” Wildan mendongakan kepala kejendela.
Astaghfirullah,” kuusap wajahku, aku takut sekali jika ini termasuk zina mata.
 “Lihat pemandangan alam sekitar Wil, sungguh indah sekali ciptaan-Nya.” Dalihku menyembunyikan rasa gemetar di dada.
Kututup kembali jendela kamar. Kulangkahkan kaki keluar, hanya sekedar mencari angin segar untuk membuyarkan lamunan dalam fikiranku. Subhanallah, Walhamdulillah, Wallahu Akbar, sungguh betapa indah ciptaan Allah di alam semesta ini, tak henti-henti ku memuji-Nya atas semua yang telah Allah ciptakan. Kuucapkan Qur’an Surat Ibrahim Ayat 7; waidzta’adzannakum robbukum lainsyakartum laadzidannakum, walaingkafartum inna adzaabii lasyadiid[6] terus kuucapkan lafadz itu dalam hati sebagai ungkapan rasa syukurku kepada Allah.
Kusisir sudut-sudut bangunan disekitar pesantren, kulihat tulisan BAITUL QUR’AN perpustakaan Al-Hidayah. Kulangkahkan kaki menuju tempat itu. Di dalam pintu perpustakaan ada meja besar melingkar diatasnya ada komputer sebagai server pencatatan peminjaman dan pengembalian buku atau kitab-kitab. Penjaganya tersenyum ramah kepadaku, aku hanya membalas sekedarnya dan menundukkan kepalaku menuju ruang referensi. Kuambil kitab Tafsir Jalalain, langsung saja tanpa basa basi kubuka bab tentang surat Al-Fatihah. Lalu kuambil kamus al-Munawwir sebagai alat bantuku untuk mencari ayat-ayat yang sulit.
Kusisir kembali rak-rak buku, kulihat sosok gadis itu.
Masya’allah !
Pucuk dicinta ulam pun tiba, gumamku dalam hati. Menatap rendah menundukkan kepalanya membaca Muqoddimah Ibn Khaldun. Aku tercengang melihatnya, seluruh tubuhku gemetar bagai tersengat listrik. Dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum kembali kepadaku, aku membalas senyumnya yang begitu menggetarkan hati. Kupandangi wajahnya sekali lagi, benarkah dia yang kulihat pagi itu, atau ini hanya mimpi siang bolong. Subhanaallah, memang benar itu bidadari yang ku lihat dijendela kamarku.
“Kamu santri baru ya, “ tanyanya membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk.
“Darimana?”
“Kendal”
Dia hanya mengangguk.
“Kamu...”
Bersama kami saling berucap. Mata kami bertemu dalam sudut cakrawala yang tepat untuk menyatukan satu titik pandangan. Dia tersenyum, sambil ketawa kecil menyunggingkan bibir tipisnya. Sampai aku tak sadar kitab yang kupegang tangan kananku jatuh, wajahku mulai memerah, kuraih kitab tafsir jalalain itu kembali.
“Kamu kuliah atau hanya menghafal saja di pesantren”
“Kuliah”
“Ambil prodi apa ?”
“Fakultas Ilmu Dakwah.”
Dia mengangguk.
“Kalau kamu sendiri darimana”
“Semarang”
“Kuliah?”
“Enggak, cuman di pesantren saja”
“Hmm...”
Aku cepat-cepat melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat dzuhur.
Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Kurasakan ada tatapan sinis dari seorang laki-laki, namanya Ghifari. Dia kakak kelasku di pesantren. Maklum udah lima tahun tinggal di pesantren Al-Hidayah, dia juga sebagai pengurus keamanan pesantren. Sejak awal dia memang sudah menyukai gadis itu, namun tidak pernah diterima cintanya. Aku dengar cerita itu dari Syarif teman sekamarku waktu aku selesai menatap gadis itu dijendela. Namun syarif tidak memberitahu siapa nama gadis itu. Bikin aku penasaran saja !
Tak apalah, cinta memang tidak bisa dipaksa, cinta tidak bisa ditebak. Kapan akan muncul kapan akan pergi, yang pasti cinta sejati tak akan mati.
v   
Sudah hal yang biasa di daerah pegunungan langit meneteskan air, pagi ini hujan begitu deras diluar sana, terlihat dari kaca yang berembun, angin menghembus sangat kencang. Aku sudah ada janji di kampus dengan Pak Abdurrohman yang mengajar tafsir Al-Qur’an, kuraih payung dan tas untuk siap-siap berangkat kuliah. Syarif mengingatkan aku untuk izin saja karena cuaca kurang begitu mendukung. “ Sudahlah Lif, kuliahnya izin saja dulu untuk kali ini, cuaca hari ini sangat tidak baik, nanti kamu malah sakit,” aku hanya menoleh sambil menganggukkan kepala untuk meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Seandainya aku di kamar saja, sambil minum secangkir kopi panas, dan tempe kemul, melamun dengan imajinasi memandang ke langit-langit, memanjakan tubuh diatas kasur dengan menyelonjorkan kaki ditutupi selimut tebal pasti begitu nikmat terasa.
Benar kata Syarif, cuaca kurang baik.
Pak Abdurrohman memberikan nukilan ayat dari al-Qur’an, sebagai penguat untuk semangat dalam mencari ilmu. Waidza qiilansyuzu fangsyuzu yarfa’illahulladzina aamanu mingkum walladzina ‘uutul ‘ilma darajaat[7]. Sebagai motivasi diri untuk selalu mencari ilmu, apapun resiko dan tantangan yang menghadang karena Allah sudah memberikan janjinya bagi orang-orang berilmu beberapa derajat.
Hari ini, hanya satu mata kuliah. Sehingga aku bisa pulang lebih awal untuk mengulang kembali hafalan-hafalan Qur’anku yang nanti sore disetorkan kepada Kyai. Kulangkahkan kaki menuju pesantren melalui tegalan sawah. Karena itu salah satu jalan alternatif untuk lebih cepat sampai ke pesantren. “ Alif...Alif! ” kuhentikan langkahku. Terdengar ada suara memanggil-manggil namaku. Kupicingkan mataku untuk mencari panggilan itu, terdengar asing di telingaku. Aufa teman sekelasku, menghampiri dan memberikan sepucuk surat.
“Tadi temanku menitipkan surat untukmu, katanya dia kemarin bertemu kamu di perpustakaan Baitul Qur’an,”
“ Terima kasih Aufa.”
“Aku duluan ya Lif, Ila liqo’[8]
Hatiku berdebar, fikiranku bergelut menggeliat, nafasku tak beraturan. Kugenggam surat ini, tanganku bergetar, sudah tak sabar ingin membuka surat dari bidadariku, entah siapa nama gadis itu. Kupercepat langkah ke pesantren.
Dari sudut amplop kubuka pelan-pelan, sambil kubaca basmallah untuk meredamkan nafasku, hati-hati kubaca dengan teliti.
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Semoga keberkahan selalu terlimpahkan untukmu. Tak ada yang sempurna dari rencana manusia dalam sebuah pertemuam.       Tentulah Allah sudah menggariskan dengan keagungan-Nya. Aku bukan wanita surga, seperti Khodijah binti Khuwailid atau Fatimah Az-Zahra, Bukan juga wanita kuat seperti Ummu Sulaim atau Aisyah. Aku wanita yang merindukan Imam yang menunjukkan jalan ke sorga. Aku hanya wanita lemah, yang kuat karena Imam ku.Kau berikan air surga, dalam dahaga berkepanjangan, Lewat tutur sapamu, menyejukkan hati yang gersang di padang pasir. Namun, seketika kebahagiaan dan harapan itu. Harus terpisah oleh jarak dan waktu.
          Wahai Calon Imamku
Ku titipkan tulang rusukku. Agar kau jaga sebagai mana engkau menjaga ilmumu      Sampai kita satukan kembali tulang rusak kita. Akan ku jaga tulang rusukmu sebagaimana aku menjaga kesucianku. Percayalah ! Tulang rusuk kita tak kan pernah tertukar bukan. Jangan kau rindukan aku, itu hanya akan menyiksaku, karena hatiku sudah terpahat dalam batinmu. Tak ada kekuatan melebihi Allah. Tak ada kekeliruan dalam kuasa-Nya. Allah Maha Bijaksana.
Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
Dari permatamu,
Halimah
Aku tersimpuh menerima suratnya, gadis itu bernama Halimah. Terngiang-ngiang dibenakku senyumnya, suaranya, namanya melekat dalam kalbu.
Ya Allah, seandainya dia jodohku mudahkanlah langkahku dan dekatkanlah aku dengannya, pertemukan aku dalam ikatan janji suci. Namun, seandainya dia bukan jodohku maka jodohkanlah aku dengan bidadari surga-Mu. 
v   
Tolibil Khusna atau nama pena Abil McWriter lahir di kota Kendal Desa Pandes pada tanggal 07 Juli 1990. Sekarang penulis tinggal di Kalibeber Wonosobo. Terlahir di desa tidak membuatnya berkecil hati, justru menjadi cambuk bagi dirinya untuk bisa mewujudkan impiannya sejak kecil yaitu menjadi penulis dan pendidik. Lulusan sarjana pendidikan ini semasa kuliah sempat menjadi ketua pers dan jurnalistik buletin Andromeda dan juga mengembangkan bakat sastranya di Teater Dahsyat tahun 2009 di Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo.  Kesibukannya di dunia pendidikan tidak menyurutkan tekadnya untuk menulis cerpen, novel, dan puisi. Dengan kesibukannya sebagai pendidik di SMP Al Madina Wonosobo penulis juga  menempuh pendidikan S2 di kampus yang sama. Alumni Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber Wonosobo ini masih aktif mengajar di pesantren sejak 2009 sampai sekarang.






[1]Tanda shalat dimulai
[2] Mengaji dengan cara menghadap langsung ke guru satu persatu
[3] Semangat
[4] Ayam yang masih utuh dan sudah dimasak
[5] Muthala’ah adalah mengulang kembali pelajaran yang sudah disampaikan
[6] Dan tatkala Tuhanmu mema’lumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
[7] Apabila dikatakan kepadamu; berdirilah. Maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkatmu dan memberikan ilmu beberapa derajat.
[8] Sampai jumpa

0 komentar:

Posting Komentar