Senin, 08 Juni 2015
On 19.09 by Zuhdi Amin No comments
JODOH
(Hanya Allah yang Tahu)
Penulis: Tolibil
Khusna Twitter: @07Abil McWriter / Fb: Abil McWriter
Jelas
sekali terlihat kontras antara anak priyayi dan abangan di sebuah desa, seluruh
anak priyayi dimasukkan dalam pesantren sedangkan anak abangan hanya di ladang
sawah, paling tinggi hanya tamatan Sekolah Dasar (SD). Anehnya, pemuka desa
justru mendukung warganya untuk menjadi buruh di kota besar, seperti Jakarta,
Semarang, atau ke Luar Jawa bahkan ada sebagian orang tua begitu bahagia dan
bangga ketika salah satu anaknya menjadi TKI di Luar Negeri.
Alif
berhenti sejenak di gerbang desa. Ia berharap tak ada orang yang melihatnya,
tetapi sekali ini ia tidak beruntung. Semua orang melihat Alif yang habis
pulang dari pesantren dengan mengenakan sarung dan peci serta tangan kanannya
membawa kitab yang telah selesai di kajinya di pesantren. Nampak, dalam
pandangan orang-orang desa terlihat aneh melihatnya. Alif sungguh berharap bisa
menyingkir dari sana tanpa diketahui siapapun.
“
Hai Lif, bagaimana kabarmu ? Wah sekarang sudah jadi Ustadz, kapan kau akan
menikah?” tanya Rahman, yang berdiri disampingnya.
“
Belum tahu Man, Abah menyuruh kuliah lagi,”
“
Ingat umur Lif, nanti kau jadi bujang lapuk!”
Rahman
mengingatkan sahabatnya seolah-olah dia tak tahu adat dari anak priyayi. Alif
tidak membuka mulutnya lagi saat Rahman meninggalkannya. Bisik-bisik itu
terdengar semakin jelas. Bahkan, anak ini bisa menangkap isi pembicaraan
mereka. Memang di desa usia dua puluh lima tahun tergolong sudah telat menikah.
“
Pertama, menurut pendapatku Alif itu orangnya panjang angan-angan, anak kyai
desa aja kepinginnya kuliah ke luar negeri.”
“
Kata pak Sanusi yang jadi abdi ndalemnya, Abahnya itu orangnya keras, kalau
ingin apa ya harus dituruti,”
“Dan
kau percaya itu? Semua juga tahu, kalau laki-laki seperti dia pasti
menginginkan pendidikan yang layak. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika
aku seperti dia.”
“Aku
setuju, terlalu dikekang juga akan menyakiti hati saja.”
“Hati-hati
teman, penyakit hati tercium dari sini”
“Menurutku,
Alif laki-laki yang optimis, berjiwa teguh, dan mempunyai mimpi yang besar
karena nantinya ia yang menggantikan posisi ayahnya kelak”
Matahari
mulai tenggelam meninggalkan ufuknya, mega merah di bawah kaki bukit gunung
Sindoro begitu cerah terpancar mengiringi terbenamnya matahari yang lelah
membakar diri untuk menerangi alam raya. Burung-burung berterbangan kembali
pada sarangnya, binatang-binatang kecil melengking suaranya, merasuk ke gendang
telinga. Gema adzan maghrib menjulang ke angkasa lewat mercusuar Masjid
Baiturrohman, lantunan iqamat[1]
membawa alam mulai petang.
Panggilan
mulia itu terasa menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan
kesejahteraan terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah kaki menuju masjid
Baiturrohman yang hanya beberapa meter saja dari rumahku.
Sudah
menjadi rutinitas kami dirumah setelah sholat maghrib biasanya mengaji sorogan[2]
dengan Abah. Mengaji kitab Fathul Qorib,
Akhlakul Banin, Jurumiyah dan Al-Qur’an. Aku habiskan waktu malam untuk
memperdalami ilmu agama. Walau hanya 30 menit, tetapi ghirah[3] kami sangat kuat. Tetapi ada yang beda
dengan malam ini, sejak dari dulu tradisi di desaku apabila ada anak yang
khatam mengaji dari pesantren pasti ada syukuran kecil-kecilan, melantunkan
sholawat al barzanji dengan diiringi
rebana klasik.
Orang-orang
desa mulai berdatangan memadati rumah. Suara alunan musik rebana dengan suara
parau melantunkan sholawat barzanji membawa suasana riuh, merdu sekali marasuk
ditelinga, orang-orang sangat antusias sekali, sesekali mataku melirik ke sudut
ruang terlihat keringat bercucuran deras dengan mulutnya membacakan sholawat,
walaupun malam ini cuacanya sangat dingin. Acara selesai dengan makan ingkung[4],
nasi liwet dan kerupuk rambak, orang-orang begitu menikmatinya, ada canda tawa
yang terlontarkan dari kerumunan malam ini.
“Alif,
besok lusa kau persiapkan semuanya untuk kuliah. Abah sudah daftarkan kamu di
Universitas Ulumul Qur’an, pak Sanusi sudah mengurus semuanya sebelum kamu
pulang.”
“Iya
Bah” jawab Alif dengan membetulkan posisi duduknya.
Udara
dingin pegunungan menusuk kulit, seluruh kujur tubuh terasa menggigil, bahkan
sebagian bapak-bapak yang hadir ada yang memakai handuk sekedar menutup
lehernya untuk melawan hawa dingin malam ini. Satu persatu tamu undangan pergi
begitu saja hanya meninggalkan tawa riuh suka ria pada acara tasyakuran.
Aku lihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh
malam, aku rebahkan punggungku di tembok ruang tamu, aku selonjorkan kaki di
atas karpet hijau untuk mengusir lelah perjalanan yang telah ku lalui hari ini
dari pesantren, sambil ku dengarkan suara merdu Habib Syekh bin Abdul Qodir As-Segaf.
Aduhai nikmatnya, Mataku liyer-liyer menikmati
indahnya sholawat.
v
Pagi
ini langit begitu cerah, matahari tersenyum lebar-lebar, semilir angin membelai
halus rambutku. Burung kenari tak jemu melantunkan suara khasnya, mengiringi
hari yang istimewa bagiku, hari ini aku akan ke Universitas Ulumul Qur’an
sekaligus mencari pesantren sebagai tempat tinggalku nanti, aku dengar dari pak
Sanusi katanya Abah punya teman disekitar kampus, kebetulan juga sebagai
pengasuh pesantren. Kusisir tempat depan rumahku, pohon kelapa tinggi
menjulang, pohon rambutan, tanaman singkong, palawija, lestari alamku dengan
hijau daun dan ladang sawah. Terdengar dari jauh suara kerbau yang lapar,
daun-daun hijau yang melambai-lambai. Pak Tani berlalu lalang, sambil
menyunggingkan bibirnya dengan sapaan ramah, dipikulnya cangkul untuk menggarap
ladang yang akan ditanami padi.
Kulihat
jam tangan yang menempel ditangan kananku, suaranya begitu gelisah ditelinga,
menunjukkan pukul tujuh pagi. Seperti biasa tak pernah kulewatkan untuk shalat
dhuha walau hanya dua rakaat, karena itu memang sudah jadi kebiasaanku yang
selalu Abah ajarkan sebelum aku di pesantren.
“Ayo
Lif, kita berangkat ke pesantren,”
“Iya
Bah, ini lagi berkemas-kemas”
Walau
ada Pak Sanusi sebagai abdi ndalem, tapi aku tidak boleh seenaknya sendiri,
apapun semua kebutuhan harus kupersiapkan sendiri. Abah akan sangat marah kalau
aku menyuruh Pak Sanusi dan mengetahui apa yang aku lakukan jika harus bergantung
pada orang lain. Kalau bisa melakukan sendiri kenapa harus menyuruh orang lain
untuk mengerjakannya. Dilajunya sepeda motor Vespa 1960, motor kesayangan yang
sampai sekarang masih dipakai kemana-mana. Sekitar satu jam dari tempatku
sampai ke pesantren. Aku dikenalkan oleh
teman Abahku yang tak lain pengasuh pondok pesantren Al Hidayah. Beliau bernama
KH. Hizbullah. Beliau sangat mengohormati tamu, sederhana, dan meneduhkan kalau
pandang, halus tutur katanya, orang-orang disekitar sangat menghormati beliau
karena kedalaman ilmu dan santun pekertinya.
Aku
ditunjukkan kamar yang akan Aku tempati,
ya ukurannya sekitar 4x6 meter, cukuplah kalau hanya buat bertiga. Aku pandang
dari jauh Abah begitu akrab dengan pak Kyai, kulihat ada tawa lepas, seperti
anak ayam bertemu induknya. Aku dipanggil untuk duduk bersama dengan pak Kyai,
ada sedikit rasa canggung, malu, gerogi, sampai-sampai tak sadar keringat di
jidatku basah.
“
Alif, yang betah ya, kalau ada apa-apa bilang saja,” kata pak Kyai ramah.
“
Aku hanya menganggukkan kepala, sebagai rasa setuju.”
“Tidak
usah tirakat-tirakatan, belajar yang rajin, dimuthala’ahi[5]
apa yang sudah disampaikan oleh ustadz-ustadz disini”
Aku
hanya menganggukkan kepala.
“Alif, ambil jurusan apa?”
“Fakultas
Ilmu Dakwah, Yai”
Kutengok
Abah sudah berkali-kali melihat jam tangannya, maklum dirumah juga ada jadwal
pengajian bersama ibu-ibu, tak lama Abah berpamitan untuk pulang ke rumah.
Aku
diantar Ustadz Zainal, Lurah di pondok pesantren Al-Hidayah, orangnya tinggi
penuh wibawa. Aku di masukkan ke kamar Ali bin Abi Thalib, di samping kanan
yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar ibn Khattab, di samping kiri Usman bin
Affan. Di pesantren ini nama kamarnya unik, selain untuk mengingat nama para
sahabat nabi juga sebagai teladan penghuninya.
Udara
pegunungan terasa sekali di kulitku, walau jam menunjukkan pukul sembilan pagi
tetapi aku merasakan seperti waktu subuh saja. Kupandang seluruh sudut-sudut
pesantren, dipojok asrama pesatren dibawah tiang peyangga bangunan kamar
terlihat laki-laki kira-kira berumuran dua puluh tujuh tahun begitu asyik
menikmati lantunan ayat suci al-Qur’an, disamping kanannya laki-laki berkulit
hitam berambut ikal membaca buku pengetahuan, nampak dari jauh Tafsir Al Misbah
ditangannya begitu serius ia pelajari.
“Assalamualaikum”
”Waalaikumsalam warohmatullohi
wabarokatuh.”
“Ini ada santri baru dari Kendal. Nanti di
bimbing, apa saja yang menjadi adat dan tradisi di pesantren. Saya tinggal
dulu, harus ke ndalem lagi”.
“Iya
kang,”
Memang
di pesantren kalau memanggil yang lebih tua menggunakan sapaan “kang”, meski
umurnya lebih muda namun lebih dahulu tinggal di pesantren tetap menggunakan
sapaan kang, karena sudah menjadi adat atau tradisi dari pesantren. Jadi di
pesantren semua sama, tidak ada yang dibeda-bedakan sekalipun anak pejabat,
kyai, atau kepala desa kalau ada di pesantren semua sama. Ketika salah harus
diberikan hukuman secara disiplin. Dalam kamar ini aku tinggal bertiga; aku,
syarif dan wildan. Aku yang baru mau masuk kuliah, karena jadwal kuliah di
bulan September. Dan memang bulan September lagi musim dingin-dinginnya di daerah
pegunungan. Syarif baru tingkat lima. Sedangkan wildan menunggu pengumuman
untuk menulis skripsi.
Kubuka
jendela kamar perlahan.
Subhanallah!
Nampak
pemandangan hijau pegunungan disertai kabut yang tebal, dibawah kaki gunung
Sumbing, burung-burung berlarian di pemetakan sawah, begitu rapi tersusun
terasering, para petani berjongkok
menanam padi, bunga matahari berjejer sangat rapi menambah elok ciptaan Allah.
Mataku menangkap ada paras yang bersinar dibalik kerudung putih, dijalan kecil
ladang sawah, kutatap dengan hati-hati, kupandangi dengan teliti bagai mencari
jarum di tumpukkan jerami.
Mataku
tak bisa menoleh dibuat penasaran olehnya, siapakah gerangan gadis berjilbab
putih itu, gumamku dalam hati. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, menyunggingkan
bibir mungilnya, jantungku berdekup kencang bagai tertembak meriam Belanda.
Parasnya memancarkan cahaya air wudlu, matanya indah seperti bola pimpong, kulitnya putih bersih. Aku
benar-benar tercengang dibuatnya. Tiba-tiba Wildan membuyarkan lamunanku.
“Sedang
apa kau Lif, apa yang kau lihat diluar sana.” Wildan mendongakan kepala
kejendela.
“Astaghfirullah,” kuusap wajahku, aku
takut sekali jika ini termasuk zina mata.
“Lihat pemandangan alam sekitar Wil, sungguh
indah sekali ciptaan-Nya.” Dalihku menyembunyikan rasa gemetar di dada.
Kututup
kembali jendela kamar. Kulangkahkan kaki keluar, hanya sekedar mencari angin
segar untuk membuyarkan lamunan dalam fikiranku. Subhanallah, Walhamdulillah, Wallahu
Akbar, sungguh betapa indah ciptaan Allah di alam semesta ini, tak
henti-henti ku memuji-Nya atas semua yang telah Allah ciptakan. Kuucapkan Qur’an
Surat Ibrahim Ayat 7; waidzta’adzannakum
robbukum lainsyakartum laadzidannakum, walaingkafartum inna adzaabii lasyadiid[6]
terus kuucapkan lafadz itu dalam hati sebagai ungkapan rasa syukurku kepada
Allah.
Kusisir
sudut-sudut bangunan disekitar pesantren, kulihat tulisan BAITUL QUR’AN
perpustakaan Al-Hidayah. Kulangkahkan kaki menuju tempat itu. Di dalam pintu perpustakaan
ada meja besar melingkar diatasnya ada komputer sebagai server pencatatan
peminjaman dan pengembalian buku atau kitab-kitab. Penjaganya tersenyum ramah
kepadaku, aku hanya membalas sekedarnya dan menundukkan kepalaku menuju ruang
referensi. Kuambil kitab Tafsir Jalalain,
langsung saja tanpa basa basi kubuka bab tentang surat Al-Fatihah. Lalu
kuambil kamus al-Munawwir sebagai
alat bantuku untuk mencari ayat-ayat yang sulit.
Kusisir
kembali rak-rak buku, kulihat sosok gadis itu.
Masya’allah !
Pucuk
dicinta ulam pun tiba, gumamku dalam hati. Menatap rendah menundukkan kepalanya
membaca Muqoddimah Ibn Khaldun. Aku tercengang melihatnya, seluruh tubuhku
gemetar bagai tersengat listrik. Dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum
kembali kepadaku, aku membalas senyumnya yang begitu menggetarkan hati.
Kupandangi wajahnya sekali lagi, benarkah dia yang kulihat pagi itu, atau ini
hanya mimpi siang bolong. Subhanaallah,
memang benar itu bidadari yang ku lihat dijendela kamarku.
“Kamu
santri baru ya, “ tanyanya membuyarkan lamunanku.
Aku
mengangguk.
“Darimana?”
“Kendal”
Dia
hanya mengangguk.
“Kamu...”
Bersama
kami saling berucap. Mata kami bertemu dalam sudut cakrawala yang tepat untuk
menyatukan satu titik pandangan. Dia tersenyum, sambil ketawa kecil
menyunggingkan bibir tipisnya. Sampai aku tak sadar kitab yang kupegang tangan
kananku jatuh, wajahku mulai memerah, kuraih kitab tafsir jalalain itu kembali.
“Kamu
kuliah atau hanya menghafal saja di pesantren”
“Kuliah”
“Ambil
prodi apa ?”
“Fakultas
Ilmu Dakwah.”
Dia
mengangguk.
“Kalau
kamu sendiri darimana”
“Semarang”
“Kuliah?”
“Enggak,
cuman di pesantren saja”
“Hmm...”
Aku
cepat-cepat melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat dzuhur.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh.”
Kurasakan
ada tatapan sinis dari seorang laki-laki, namanya Ghifari. Dia kakak kelasku di
pesantren. Maklum udah lima tahun tinggal di pesantren Al-Hidayah, dia juga
sebagai pengurus keamanan pesantren. Sejak awal dia memang sudah menyukai gadis
itu, namun tidak pernah diterima cintanya. Aku dengar cerita itu dari Syarif
teman sekamarku waktu aku selesai menatap gadis itu dijendela. Namun syarif
tidak memberitahu siapa nama gadis itu. Bikin aku penasaran saja !
Tak
apalah, cinta memang tidak bisa dipaksa, cinta tidak bisa ditebak. Kapan akan
muncul kapan akan pergi, yang pasti cinta sejati tak akan mati.
v
Sudah
hal yang biasa di daerah pegunungan langit meneteskan air, pagi ini hujan
begitu deras diluar sana, terlihat dari kaca yang berembun, angin menghembus
sangat kencang. Aku sudah ada janji di kampus dengan Pak Abdurrohman yang
mengajar tafsir Al-Qur’an, kuraih payung dan tas untuk siap-siap berangkat
kuliah. Syarif mengingatkan aku untuk izin saja karena cuaca kurang begitu
mendukung. “ Sudahlah Lif, kuliahnya izin saja dulu untuk kali ini, cuaca hari
ini sangat tidak baik, nanti kamu malah sakit,” aku hanya menoleh sambil
menganggukkan kepala untuk meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja.
Seandainya aku di kamar saja, sambil minum secangkir kopi panas, dan tempe kemul, melamun dengan imajinasi
memandang ke langit-langit, memanjakan tubuh diatas kasur dengan menyelonjorkan
kaki ditutupi selimut tebal pasti begitu nikmat terasa.
Benar
kata Syarif, cuaca kurang baik.
Pak
Abdurrohman memberikan nukilan ayat dari al-Qur’an, sebagai penguat untuk
semangat dalam mencari ilmu. Waidza
qiilansyuzu fangsyuzu yarfa’illahulladzina aamanu mingkum walladzina ‘uutul
‘ilma darajaat[7].
Sebagai motivasi diri untuk selalu mencari ilmu, apapun resiko dan
tantangan yang menghadang karena Allah sudah memberikan janjinya bagi
orang-orang berilmu beberapa derajat.
Hari
ini, hanya satu mata kuliah. Sehingga aku bisa pulang lebih awal untuk mengulang
kembali hafalan-hafalan Qur’anku yang nanti sore disetorkan kepada Kyai. Kulangkahkan
kaki menuju pesantren melalui tegalan sawah. Karena itu salah satu jalan
alternatif untuk lebih cepat sampai ke pesantren. “ Alif...Alif! ” kuhentikan
langkahku. Terdengar ada suara memanggil-manggil namaku. Kupicingkan mataku
untuk mencari panggilan itu, terdengar asing di telingaku. Aufa teman
sekelasku, menghampiri dan memberikan sepucuk surat.
“Tadi
temanku menitipkan surat untukmu, katanya dia kemarin bertemu kamu di
perpustakaan Baitul Qur’an,”
“
Terima kasih Aufa.”
“Aku
duluan ya Lif, Ila liqo’[8]’”
Hatiku
berdebar, fikiranku bergelut menggeliat, nafasku tak beraturan. Kugenggam surat
ini, tanganku bergetar, sudah tak sabar ingin membuka surat dari bidadariku,
entah siapa nama gadis itu. Kupercepat langkah ke pesantren.
Dari
sudut amplop kubuka pelan-pelan, sambil kubaca basmallah untuk meredamkan nafasku, hati-hati kubaca dengan teliti.
Assalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh.
Semoga keberkahan selalu terlimpahkan untukmu. Tak ada yang sempurna
dari rencana manusia dalam sebuah pertemuam. Tentulah
Allah sudah menggariskan dengan keagungan-Nya. Aku bukan wanita surga, seperti
Khodijah binti Khuwailid atau Fatimah Az-Zahra, Bukan juga wanita kuat seperti
Ummu Sulaim atau Aisyah. Aku wanita yang merindukan Imam yang menunjukkan jalan
ke sorga. Aku hanya wanita lemah, yang kuat karena Imam ku.Kau berikan air
surga, dalam dahaga berkepanjangan, Lewat tutur sapamu, menyejukkan hati yang
gersang di padang pasir. Namun, seketika kebahagiaan dan harapan itu. Harus
terpisah oleh jarak dan waktu.
Wahai
Calon Imamku
Ku titipkan tulang rusukku. Agar kau jaga
sebagai mana engkau menjaga ilmumu Sampai
kita satukan kembali tulang rusak kita. Akan ku jaga tulang rusukmu sebagaimana
aku menjaga kesucianku. Percayalah ! Tulang rusuk kita tak kan pernah tertukar
bukan. Jangan kau rindukan aku, itu hanya akan menyiksaku, karena hatiku sudah
terpahat dalam batinmu. Tak ada kekuatan melebihi Allah. Tak ada kekeliruan
dalam kuasa-Nya. Allah Maha Bijaksana.
Wassalamualaikum warohmatullah
wabarokatuh
Dari permatamu,
Halimah
Aku
tersimpuh menerima suratnya, gadis itu bernama Halimah. Terngiang-ngiang
dibenakku senyumnya, suaranya, namanya melekat dalam kalbu.
Ya Allah, seandainya
dia jodohku mudahkanlah langkahku dan dekatkanlah aku dengannya, pertemukan aku
dalam ikatan janji suci. Namun, seandainya dia bukan jodohku maka jodohkanlah
aku dengan bidadari surga-Mu.
v
Tolibil
Khusna atau nama pena Abil McWriter lahir di kota Kendal Desa Pandes pada
tanggal 07 Juli 1990. Sekarang penulis tinggal di Kalibeber Wonosobo. Terlahir
di desa tidak membuatnya berkecil hati, justru menjadi cambuk bagi dirinya
untuk bisa mewujudkan impiannya sejak kecil yaitu menjadi penulis dan pendidik.
Lulusan sarjana pendidikan ini semasa kuliah sempat menjadi ketua pers dan
jurnalistik buletin Andromeda dan juga mengembangkan bakat sastranya di Teater
Dahsyat tahun 2009 di Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo. Kesibukannya di dunia pendidikan tidak
menyurutkan tekadnya untuk menulis cerpen, novel, dan puisi. Dengan
kesibukannya sebagai pendidik di SMP Al Madina Wonosobo penulis juga menempuh pendidikan S2 di kampus yang sama.
Alumni Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber Wonosobo ini masih aktif
mengajar di pesantren sejak 2009 sampai sekarang.
[1]Tanda shalat dimulai
[2] Mengaji dengan cara menghadap langsung ke guru satu
persatu
[3] Semangat
[4] Ayam yang masih utuh dan sudah dimasak
[5] Muthala’ah adalah mengulang kembali pelajaran yang
sudah disampaikan
[6] Dan tatkala Tuhanmu mema’lumkan: sesungguhnya jika
kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
[7] Apabila dikatakan
kepadamu; berdirilah. Maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkatmu dan
memberikan ilmu beberapa derajat.
[8] Sampai jumpa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
Menggambar Obat Nyamuk Bakar dengan Menu Spiral Tool di CorelDRAW Kali ini aku akan membagi tip cara membuat objek spiral, sebagai obj...
-
kuncinya cukup sabar dan ikhlas seberat apapun beban hidup insya alloh akan terasa ringan
-
Cara Membuat Aplikasi Android dengan Mudah Aplikasi Android (Android APK) adalah hal yang sangat akrab dengan kita, besar sekali permin...
-
Emas Menguat Setelah Kekhawatiran Yunani Memicu Permintaan Haven Tuesday, 9 June 2015 21:41 WIB | PRECIOUS METALS | EMAS Bullio...
-
10 Tips Menjadi Orang Sabar in Psikologi , Tips dan Trik , Tips Sukses - on 18:40 Kesabaran adalah salah satu k...
-
Sampah Plastik, Pengganti Bahan Bakar Kehidupan manusia saat ini tidak terlepas dari penggunaan plastik. Namun disi...
-
kau selalu hadir menghampiriku saat aku menatap y kau menari2 mengikuti irama yg indah dan gerakan sesui bentuk huruf hijaiyah dan t...
-
SEKEDAR MOTIFASI Kalau tujuan akhirmu adalah sebuah nilai dikertas, maka umur dari tujuanmu sama dengan umur tinta printer. semakin lunt...
-
Mengirim pesan Baru di Gmail? Berikut adalah panduan langkah demi langkah tentang menulis dan mengirim pesan: Klik tombol Tulis d...
-
Cara Menulis Huruf Arab di Microsoft Word Windows 8 Postingan kali ini saya akan akan share cara menulis arab di Ms Word windows ...
Recent Posts
Sample Text
Blog Archive
- Juni (70)
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar